Blog
Spread the love

Trimester ketiga menjadi masa harap-harap cemas dalam kehamilan. Selain muncul perasaan senang karena waktu bertemu si kecil semakin dekat, masa ini juga paling rentan. Pasalnya, saat sedang hamil trimester ketiga, kandungan rentan mengalami berbagai masalah, gangguan, dan juga komplikasi.

Kondisi yang perlu diwaspadai saat hamil trimester ketiga

Dikutip dari Healthline, berikut ini berbagai kondisi yang perlu diwaspadai saat sedang hamil trimester ketiga:

1. Diabetes gestasional

Diabetes gestasional adalah perubahan hormon yang menyebabkan insulin tidak mampu bekerja dengan baik. Ketika insulin tidak melakukan tugasnya dengan benar, maka kadar gula darah di dalam tubuh akan tinggi melebihi batas normal.

Biasanya kondisi ini pertama kali muncul pada minggu ke-20 kehamilan atau di trimester kedua dan akan terus berkembang hingga trimester ketiga. Namun, biasanya kondisi ini akan segera hilang setelah melahirkan. Meski begitu, ibu perlu berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gangguan ini.

Pasalnya, diabetes gestasional dapat meningkatkan risiko kelahiran caesar dan cedera lahir. Untuk itu, saat memasuki trimester ketiga yakni di antara minggu ke 24 hingga 28 sebaiknya Bunda melakukan tes uji diabetes gestasional.

Untuk mengatasi hal ini, Bunda dapat melakukan perubahan pola makan dengan mengurangi asupan karbohidrat dan meningkatkan buah serta sayur. Selain itu, dokter juga akan merekomendasikan Bunda untuk melakukan olahraga ringan seperti jalan santai serta memberikan obat tertentu apabila dibutuhkan.

2.Preeklampsia

Preeklampsia adalah kondisi saat tekanan darah ibu melebihi batas normal yang juga ditandai dengan adanya protein di dalam urine.

Selain itu, ibu hamil yang memiliki preeklampsia akan mengalami kenaikan berat badan berlebih secara tiba-tiba, mudah memar, sakit kepala yang tak kunjung hilang, pandangan buram, dan pembengkakan di beberapa bagian tubuh selain kaki.

Biasanya, pengobatan preeklampsia akan tergantung dengan masing-masing kondisi ibu. Bunda tetap harus waspada karena meski muncul saat hamil tetapi kondisi ini dapat terus berlanjut hingga setelah melahirkan.

Selain itu, orang dengan kondisi preeklampsia apabila tidak ditangani akan berisiko mengalami kondisi eklampsia (kejang saat hamil), gagal ginjal dan kematian pada bayi dan ibu. Bunda juga akan lebih rentan mengalami preeklampsia lagi pada kehamilan berikutnya. Jadi, pastikan Bunda konsultasi ke dokter apabila ingin merencanakan kehamilan selanjutnya

3. Kelahiran prematur

Kelahiran prematur adalah salah satu kondisi yang perlu diwaspadai oleh ibu saat hamil trimester ketiga. Biasanya kondisi terjadi saat Bunda mengalami kontraksi yang menyebabkan serviks membuka terlalu cepat, yaitu sebelum kehamilan memasuki minggu ke-37.

Meski semua wanita memiliki risiko yang satu ini, tetapi mengandung anak kembar, memiliki cairan ketuban berlebih, mengalami infeksi pada kantung ketuban, dan pernah melahirkan prematur dapat meningkatkan risiko Bunda mengalami hal ini.

Selain kontraksi dini, ibu biasanya akan mengalami diare, sesak di perut bagian bawah, vagina seperti tertekan, hingga perdarahan vagina. Oleh karena itu, segera konsultasikan ke dokter apabila Bunda mengalami berbagai gejala tersebut.

Obat-obatan seperti magnesium sulfat biasanya dapat membantu mencegah kelahiran prematur. Tujuannya, tentu saja agar seluruh organ tubuh bayi berkembang sempurna sebelum lahir.

4. Masalah pada plasenta

Plasenta adalah saluran untuk menyuplai oksigen dan nutrisi dari ibu ke bayi. Plasenta kemudian terhubung ke bayi melalui tali pusat. Saat mengalami masalah seperti plasenta previa dan abruptio plasenta, maka kehamilan pun akan terganggu.

Plasenta previa adalah kondisi saat sebagian atau seluruh plasenta bayi menutupi serviks ibu atau jalan keluar lahir. Akibatnya, ibu akan mengalami perdarahan hebat selama kehamilan dan persalinan. Apabila kondisi ini tidak juga membaik menjelang kelahiran, dokter biasanya akan merekomendasikan Bunda untuk melakukan operasi caesar.

Sementara itu, abruptio plasenta adalah kondisi saat plasenta lepas sebelum waktunya. Plasenta yang sudah lepas tidak dapat menempel kembali. Akibatnya, pasokan oksigen dan nutrisi ke bayi menjadi terhambat dan ibu akan mengalami perdarahan hebat.

Kedua kondisi ini akan membahayakan ibu dan janin apabila dibiarkan. Oleh karena itu, lagi-lagi Bunda perlu rutin berkonsultasi kondisi kehamilan saat memasuki trimester ketiga.

5. Bayi gagal tumbuh atau Intraurine growth restriction (IUGR)

Intraurine growth restriction (IUGR) adalah kondisi saat bayi di dalam rahim gagal tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Jadi saat lahir, bayi lahir dengan berat lahir rendah. Kondisi ini umumnya terjadi karena jaringan plasenta tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, asupan oksigen dan nutrisi menjadi berkurang dan menghambat pertumbuhan bayi.

Selain itu, merokok, minum alkohol, infeksi yang dimiliki ibu, tekanan darah tinggi, dan obat-obatan tertentu juga dapat menjadi pemicu kondisi yang satu ini. Oleh karena itu, Bunda perlu rajin melakukan ultrasonografi (USG) saat memasuki trimester ketiga untuk mengecek kondisi bayi secara berkala.

6. Kehamilan postterm

Berkebalikan dengan kelahiran prematur, kehamilan postterm adalah kondisi saat bayi tak kunjung lahir hingga usianya menginjak 42 minggu. Kondisi ini sangat membahayakan janin bahkan dapat menyebabkan kematian.

Plasenta hanya dirancang untuk bekerja selama kurang lebih 40 minggu. Setelahnya, plasenta tidak akan berfungsi dengan baik. Akibatnya, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan cairan amnion di sekitar janin dan suplai oksigen serta makanan akan terhenti.

Apabila setelah mencapai usia 41 minggu Bunda tak juga mengalami kontraksi, dokter biasanya akan merekomendasikan persalinan induksi. Dengan induksi, Bunda akan dirangsang untuk mengalami kontraksi agar bayi dapat segera lahir.

7. Ketuban pecah dini

Ketuban yang pecah sebelum waktunya atau dalam istilah medis disebut dengan premature rupture of membranes (PROM) dapat membahayakan janin. Kondisi ini cukup umum terjadi saat sedang hamil trimester ketiga. Meski tidak diketahui secara pasti, kondisi ini terkadang disebabkan karena adanya infeksi selaput ketuban.

Apabila Bunda mengalami hal ini, dokter biasanya akan menyarankan untuk melakukan opname. Dengan begitu, kondisi kesehatan Bunda dan janin lebih terpantau. Selain itu, dokter juga akan memberikan obat-obatan tertentu untuk membantu mencegah persalinan.

Namun, apabila kondisi ini terjadi pada usia kehamilan yang telah mencapai 34 minggu atau lebih, Bunda kemungkinan akan direkomendasikan untuk melahirkan secara prematur. Pasalnya, risiko kelahiran prematur lebih kecil dibandingkan dengan risiko infeksi yang akan diterima bayi apabila tetap dibiarkan di dalam kandungan.

Baju Menyusui 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.