8 Tips Merawat Kulit Bayi Tetap Halus Dan Sehat

8 Tips Merawat Kulit Bayi Tetap Halus Dan Sehat

Tahukah Anda, Bahwa si kecil memiliki kulita yang sangat sensitif. Benar, kulit bayi sangat tipis dan rentan untuk terjadi iritasi. Maka untuk menjaga kulit si kecil tetap sehat adalah salah satu hal yang penting untuk merawat bayi anda. Inilah 8 tips untuk merawat kulit bayi  yang bisa Anda terapkan di rumah mulai sekarang :

8 Tips Merawat Kulit Bayi Tetap Halus dan Sehat

1. Jangan Keseringan Memandikan Bayi

Dimandikan secara berlebihan dapat membuat kulit bayi kehilangan minyak alaminya serta kandungan lainnya, dimana minyak tersebut berfungsi untuk memberikan perlindungan bakteri dan bahan iritan lainnya.

2. Pilih Produk Perawatan Kulit Yang Sesuai

Gunakanlah sabun dan shampoo dimana formulanya dibuat sesuai dengan usia bayi Anda. Pastikan juga produk yang digunakan untuk merawat kulit bayi anda harus sedikit dan tidak mengandung pewarna, pewangi, alkohol bahkan bahan kimi yang dapat berbahaya untuk kesehatan kulit si kecil. Maka cermatilah label komposisi dalam kemasannya ya bund….

3. Hindari Pemakaian Beda yang Berlebihan

Bedak bayi adalah salah satu produk perawatan kulit yang bunda sering gunakan. Namun, Anda perlu hati-hati dalam menggunakan bedak tersebut, bahkan sebisa mungkin untuk menghindarinya. Sebab bedak bayi mengandung banyak partikel yang amat halus sehingga mudah terhirup oleh si bayi. Efeknya mungkin tidak baik bagi kesehatannya. Bila Anda menggunakan bedak bayi, maka gunakan secara tipis pada kulit bayi Anda.

4. Menjaga Kelembaban Kulit Bayi

Kulit bayi ini sangat mudah kering. Oleh karena itu, Anda perlu merawat kulitnya agar kondisi kulit si kecil tetap lembab. Salah satu yang bisa dilakukan yaitu dengan menggunakan pelembab khusus bayi setelah mandi. Gunakan pelembab yang sesering munkin bila di perlukan, apalagi waktu cuaca panas dan udara kering.

5. Jangan Takut Terkena Sinar Matahari

Penggunaan tabir surya kepada bayi sangat tidak di rekomendasikan karena belum terbukti aman untuk kulitnya. Akan tetapi, jangan takut dalam membawa bayi untuk keluar jalan-jalan pada siang hari ketika matahari sedang terik. Pastikan bahwa sinar matahari tidak terkena langsung ke kulit si kecil.

6. Bersihkan Area Lipatan

Sewaktu anda mengoleskan pelembab ke kulit si kecil, pastikan kulit si kecil tidak basah. Lotion pelembab bisa mengendap pada bagian kulit yang tipis sehingga rentan mengalami ruam. Ruamnya sering terjadi pada bayi yang sudah menginjak usia 3 bulan ketika bayi sering meneteskan air liurnya. Untuk mencegah ruam kemerahan maka bersihkan sudut bayi Anda setidaknya dua kali sehari. Disarankan gunakanlah air ketika ada susu atau sisa makanan di sekitar bibirnya.

7. Jaga Kebersihan Popok Bayi Anda

Pastikan popok bayi Anda selalu terjaga kering. Selain kering secepatnya atasi ruam popok pada bayi Anda dan berikan pengobatan yang tepat sesuai penyebabnya.

8. Waspada Terhadap Gejala Eksim

Ruam kemerahan yang sering muncul pada kulit bayi salah satunya disebabkan karena eksim. Biasanya gelajala tersebut seperti ruam  merah yang kering dan gatal dan muncul di sekitar pipi atau dahi si kecil. Kebanyakan kasus ini dapat diobati dengan obat eksim yang biasa dijual di pasar bebas. Namun jika gejalanya tidak membaik segeralah konsultasi dengan dokter specialis anak.

Wah memang repot bund untuk menjaga kulit bayi anda namun langkah-langkah diatas bisa anda terapkan untuk kesehatan kulit bayi Anda. Dari masalah diatas tentu bunda sibuk sekali dalam merawat diri bunda. Sofeya memberikan solusi untuk bunda yang sedang menyusui untuk menggunakan gamis menyusui karena memudahkan bunda dalam tampil cantik saat menyusui si kecil.

Berikut Waktu Yang Tepat Untuk Menasehati Anak

Berikut Waktu Yang Tepat Untuk Menasehati Anak

Ada waktunya nasehat atau kata kata motivasi yang kita berikan ke anak kita tidak bisa diserap olehnya dengan baik. Terkadang kita orang tua tidak dapat melihat waktu atau moment saat memberikan nasehat pada anak. Malah keseringan kita hanya memberikan nasihat waktu memarahi anak karena melakukan suatu kesalahan, sehingga tidaklah jelas kalau kita memarahi atau memberikan nasehat.

Pemilihan waktu yang tepat yang bisa meringankan tugas orang tua dalam memberikan arahan kepada anak kita. Memang memilih waktu menjadi hal yang penting karena kadang hati anak kita bisa menerima arahan dari kita, namun ada waktunya anak menolak dan tidak mau untuk mendengarkan atau menerima nasehat kita.

Rasulullah SAW selalu memperhatikan dengan teliti waktu dan tempat yang tepat dimana untuk mengarahkan anak, membangun pola pikir anak, serta mengarahkan perilaku anak dan menumbuhkan perilaku yang baik terhadap anak.

Berikut tiga waktu yang tepat dalam memberikan nasehat terhadap anak :

1. Dalam Perjalanan

Kenapa dalam perjalanan adalah waktu yang tepat untuk memberikan nasehat kepada anak. Penjelasanya adalah anak akan lebih memperhatikan orang tua dimana jika di waktu perjalanan ini dia memiliki mood yang sangat baik dalam menerima nasehat kita.

Bahkan hal diatas bisa menjadi waktu yang tepat karena waktu perjalanan adalah jiwa kita selalu terbuka melihat sepanjang  jalan dimana kita bisa memberikan contoh bagi sang anak.

2. Waktu Makan

Pada waktu inilah waktu yang tepat untuk anak menerima nasehat orang tua, kenapa karena seorang anak selalu berusaha untuk tampil apa adanya. Sehingga anak terkadang melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan sopan santun di meja makan. Nah jika kedua orangtua tidak segera memberikan arahan dan nasehat kepada sang anak, maka anak akan melakukan kesalahan tersebut berulang kali.

3. Waktu dimana Anak Sakit

Sakit memang waktu dimana bisa melunakan hati semua orang bahkan orang dewasa sekalipun. Lalu bagaimana cara hati anak-anak yang masih begitu sensitif dan mudah menerima? Anak kecil ketika sakit memiliki dua keutamaan yang terkumpul padanya untuk meluruskan apa kesalahan dan perilakunya bahkan menyakinkannya, Yakni keutamaan kesucian anak dan keuatamaan lunaknya hati ketika sakit

Nah jadi bunda bisa bersabar untuk mencari waktu yang tepat kapan anak bisa di nasehati ya? Baca Juga : Manfaat Buah Melon Untuk Kehamilan 

3 Alasan Anak Tidak Patuh Kepada Anda

3 Alasan Anak Tidak Patuh Kepada Anda

Setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Oleh karena itu, orangtua sering mengarahkan apa saja yang menurutnya baik untuk sang anak. Walau kadang sang anak enggan atau membantah. Namun sebagai orang tua tidak harus mencari berbagai alasan ataupun marah, berteriak dan berdebat dengan putra-putri Bunda yang aktif, cerdas dan pandai berkilah. Karena orang tua yang bijak cukup hanya mengulangi perintahnya dengan lembut, ramah dan tenang.

Semua hal yang belum diketahui oleh buah hati Bunda tentang apa itu kewajiban menaati kedua orang tuanya adalah sesuatu yang wajar. Oleh sebab itu Bunda perlu sabar dalam menghadapinya karena bisa jadi sikap yang kita anggap membangkang karena anak tidak melaksanakan perintah Bunda adalah karena mereka tidak faham dengan maksud Bunda.

Berdasarkan pengalaman, ada beberapa faktor yang membuat anak Bunda tidak patuh pada perintah Bunda:

1. Cara memberi perintah

Perintah yang mengambang membuat anak tidak tahu maksud yang Bunda inginkan. Misalnya perkataan Bunda pada anak, “Bereskan kamarmu, jadilah anak yang sopan dan jangan jadi anak nakal”. Contoh seperti itu adalah perintah yang mengambang dan tidak definitif. Anak tidak paham dengan maksud kata sopan dan nakal. Itu yang membuat anak Bunda terkesan nakal dan juga membangkan di mata Bunda.

Oleh karena itu perintah Bunda harus definitif. Misal, apabila Bunda memerintah untuk membereskan kamar maka Bunda dapat membagi tugas-tugas tersebut menjadi tugas kecil. Misal, “rapikan tempat tidurmu ya nak, kemudian sapulah lantai kamarmu”.

Dan begitu juga ketika Bunda meminta anak Bunda untuk bersikap sopan dan tidak nakal maka Bunda perlu mendeskripsikan kata sopan dan nakal karena anak Bunda tidak memahami itu. Misal, ketika Bunda mengajak anak Bunda bertamu tiba-tiba ia lari-lari di ruang tamu dan tidak sengaja menabrak kursi yang ada di sana. Maka jangan katakan “yang sopan nak, jangan nakal”. Tapi katakan kepadanya, “ayo anak sholeh duduk dengan yang tenang ya”.

2. Tidak menyadari perintah Bunda

Terkadang pada saat Bunda berbicara pada buah hati Bunda, mereka tidak menaruh perhatian pada Bunda. Misalnya, Bunda berbicara pada anak yang sedang asyik makan, sedang asyik bermain, atau menyimak, dan lain-lain. Dalam kondisi seperti ini, anak Bunda sedang sibuk dan kesadarannya tidak tertuju ke Bunda namun mereka sedang fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan. Pada saat itu ia tidak akan mendengarkan ucapan Bunda dan pasti akan menganggap anak Bunda membangkang.

Saat anak Bunda sedang sibuk sebaiknya Bunda menasehatinya berulang-ulang dan tanyakan padanya apakah ia tahu bahwa Bunda sedang berbicara padanya. Kalau anak masih belum menyadari ucapan atau maksud Bunda, maka sentuhlah anak bunda dengan tangan lembut agar ia menatap Bunda, kemudian mintalah sekali lagi tanpa emosi dan juga berteriak.

3. Waktu yang tidak tepat

Terkadang Bunda meminta sesuatu kepada anak Bunda untuk melakukan apa yang Bunda perintahkan dengan segera. Tetapi mereka dalam kondisi yang tidak menginginkan untuk melakukan hal itu sehingga ia menundanya. Dan terkadang ia pun menolaknya. Misalkan, ketika anak Bunda ada masalah dengan temannya lalu Bunda menyuruhnya untuk meminta maaf dengan segera, dan ia tidak mau.

Lalu Bunda mengulangi permintaan Bunda dan terus memotivasinya tetapi anak Bunda masih enggan. Sudah pasti pada saat itu Bunda akan mengatakan bahwa anak tidak patuh dengan perintah Bunda. Padahal penolakan anak Bunda adalah karena ia masih butuh waktu agar dapat menerima keadaan dan juga akan melaksanakan perintah Bunda.

Kalau Bunda ingin buah hati dapat melakukan semua yang Bunda instruksikan kuncinya hanyalah sabar dan menunggu ia siap untuk melakukannya.

Sumber Ilustrasi foto : google

Baju Menyusui Gamis Menyusui / Khimar Syar’i / Gamis Ibu Menyusui /Gamis Ibu Hamil / Pakaian Menyusui

Bunda, Jangan Melakukan 6 Hal Ini di Depan Anak

Bunda, Jangan Melakukan 6 Hal Ini di Depan Anak

Semua Bunda pasti mendambakan yang terbaik untuk buah hatinya, termasuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Seringkali Bunda sebagai Orangtua malah melakukan sesuatu yang berdampak buruk untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini dikarenakan anak merupakan cerminan atas sikap dan perkataan Bunda di hadapannya. Berikut ini ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan Bunda dihadapan anak.

1. Bertengkar dengan pasangan

Di dalam rumah tangga, perbedaan pendapat seringkali terjadi. Saling berdebat mempertahankan pendapat masing-masing kadang kala timbul emosi yang membuat perdebatan menjadi panas. Namun, janganlah bertengkar dengan pasangan di hadapan anak-anak. Adu mulut dan bahkan ada yang sampai adu fisik di hadapan anak-anak, akan membuat mereka berfikir bahwa Ayah dan Bundanya bukanlah satu kesatuan, melainkan 2 orang yang saling berbeda dan tidak mencintai. Selain itu, anak pun akan mencontoh perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh Orangtua ketika bertengkar. Lebih baik diskusikan masalah tersebut dengan hati yang dingin.

2. Berkata kasar

Baik sengaja ataupun tidak disengaja, terlalu sering mengeluarkan kata-kata kasar di depan anak berarti secara tidak langsung Bunda Sholehah mengajak untuk ikut melakukan hal yang sama. Karena Bunda merupakan cerminan untuk anak-anaknya. Terlebih lagi jika memarahi anak dengan kata-kata yang kasar. Hal itu akan membuat ribuan sel otak anak akan mati karena bentakan kata-kata kasar yang terlontar dari mulut.

3. Berbohong

Berbohong sudah merupakan suatu perbuatan yang umum dilakukan. Tanpa disadari, berbohong yang dilakukan di depan anak, anak tersebut akan mencontoh perbuatan tersebut. Karena mereka berasumsi bahwa “tidak ada salahnya berbohong, toh Bunda saya juga berbohong.”

4. Sibuk dengan gadget

Sebagai Bunda, Bunda jangan terus sibuk dengan gadget jika dihadapan anak. Ajak anak bermain sambil belajar atau membaca buku agar di usianya yang sedang tumbuh dan berkembang, anak akan ikut menghabiskan waktunya untuk bermain sambil belajar serta membaca buku.

5. Terlalu sering berjanji

Menjanjikan sesuatu kepada anak sama sekali tidak dilarang, tapi jangan sampai apa yang Bunda janjikan sebenarnya adalah khayalan. Janji yang tidak Bunda tepati, akan membuat anak tidak percaya lagi dengan kata-kata Bunda.

6. Membicarakan orang lain

Mungkin sebagian Bunda akan menganggap membicarakan orang lain dengan pasangan atau teman, tidak akan diketahui dan dimengerti oleh anak. Tapi, kenyataannya tidak. Sebagian anak akan bersikap seolah tidak mendengarkan pembicaraan orang tuanya, tapi di saat yang bersamaan anak akan mencerna apa yang didengarnya. Jadi, jangan merasa aneh jika tiba-tiba si anak akan berkata “Oh, ini orang yang bunda katakan pelit ya” pada orang yang jadi bahan pembicaraan bunda dengan pasangan atau teman-teman.

Itulah hal-hal yang dilarang dilakukan jika dihadapan anak. Ingat segala perbuatan Bunda yang dilihat anak, perbuatan baik maupun buruk, akan dicontoh oleh anak dikemudian hari. Jadi, hati-hatilah berkata dan berbuat jika dihadapan anak.

Baju Menyusui Gamis Menyusui / Khimar Syar’i / Gamis Ibu Menyusui /Gamis Ibu Hamil / Pakaian Menyusui

Bunda Jadilah Sahabat Anak Anda. Cari Tahu Anda Type Orang Tua Mana Disini.

Bunda Jadilah Sahabat Anak Anda. Cari Tahu Anda Type Orang Tua Mana Disini.

Bunda Sholehah, setiap manusia, tidak saja Orang tua tetapi juga anak-anak membutuhkan sahabat dalam hidupnya. sebagai Orang tua tentu bisa menjadi sahabat menjadi anak-anak yang bisa menjadi partner dalam lingkungannya. Beban pelajaran yang berat saat ini yang dihadapi oleh anak-anak disekolah semakin hari semakin cepat daripada desah nafas Bunda. Sebagai orang terdekat anak Orang tua harus bisa memosisikan diri sebagai sahabat anak, pola asuh Orang tua dan keluarga sangat memengaruhi kepribadian anak. Semua berawal dari rumah. lalu bagaimana cara menjadi sahabat yang baik buat anak?.

Bunda kenali dulu beberapa type menjadi Orang tua, selama ini Bunda bergerak sesuai bahwa setiap type-type Orang tua sebagai berikut :

1. Orang tua yang ditakuti refleksnya anak menjadi takut, ini pun kurang tepat dijadikan sahabat oleh anak

2. Orang tua yang ingin dihormati refleksnya anak menjadi segan hingga type ini sangat sulit untuk dijadikan sahabat

3. Orang tua yang disegani refleksnya anak menjadi enggan menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

4. Orang tua yang dicintai, refleksnya anak menjadi nyaman menceritakan segala sesuatu perkembangan dalam kehidupannya.

Fase Perkembangan Manusia

Salah satu fase perkembangan manusia yang pertama egosentris fase ini dialami pada masa bayi sampai usia TK,. Fase serba harus dikabulkan segala keinginannya. Pada saat type ini terbawa pada usia SD atau SMP maka perilaku orang terdekat yang harus merubah perilaku hidupnya. contohnya terapkan Reward dan Funishment untuk mengurangi rasa egosentrisnya.

Sejak dari TK, SD sampai SMA pun tidak ada ilmu pembelajaran mengenai mengenal manusia secara filosofis hanya secara biologis. Coba lihat deh di kebun binatang, banyak ahli yang sengaja mempelajari tentang hewan, tapi sayangnya sampai saat ini masih belum banyak ilmu yang memahami tentang menjadi manusia sejak dini. adapun ilmu mengenai manusia dikenal apabila manusia itu sendiri berminat mengetahuinya dengan cara mengambil jurusan ilmu psikologi pada tingkat pendidikan tinggi, tapi tidak semua dapat mengenyam pendidikan ini dan yang terjadi dalam kehidupan manusia hanya Trial and Error. Penyebab utama adalah ketidak tahuan ilmu menjadi manusia.

Baca Juga : Tahukah Anda Penyebab Janin Gagal Berkembang Dalam Kandungan. Berikut Penyebabnya

Kembali ke pola asuh menjadi sahabat anak, ketidak hadiran ayah dalam pola asuh pendidikan anak-anak menurut Elly Risman, cenderung seringkali mengakibatkan pendidikan seks rentan terkontaminasi lingkungan yang kurang baik misalnya dari tontonan dan sebaran internet yang sampai pada genggaman. Peran ibu menjadi salah satu tonggak dalam pendidikan anak seperti disebutkan “ummi madrosatul ulla”. Sejak dari kecil tidak banyak Orang tua yang memberikan pembelajaran mengenai filosofi, cara menjadi hidup cara menjadi manusia seutuhnya, selama ini Bunda sebagai manusia berbicara tentang superior dan interior atau kekuasaan dan materi.

Bagaimana Cara Tepat Jadi Sahabat Anak

Bagaimana cara tepat untuk menjadi sahabat anak adalah dengan mencontoh hubungan Bunda dengan pasangan, berbicara heart to heart berbicara tentang kasih sayang begitupun dalam memperlakukan anak sebagai sahabat. Sebagai contoh Bunda bisa bergerak adalah berdasarkan konsep pikiran. salah satu anggota tubuh Bunda, tangan tidak pernah egois selalu menuruti apa yang ada dalam pikiran. Memakaikan kacamata, mengambil makanan dimasukkan ke dalam mulut itu atas dasar konsep pemikiran.

Filosofi

Apapun anggota tubuh yang Bunda miliki sebagai manusia punya filosofi didalamnya. filosofi itu mendasari setiap perilaku manusia. Hal yang sama berlaku untuk menerapkan anak sebagai sahabat. Penerapan konsep yang baik dari kedua Orang tua menjadi dasar anak menuruti apa yang menjadi pemikiran Orang tua, menuruti agar mereka mencintai dirinya, ayah bundanya lingkungan dan keluarganya. Dengan konsep ini anak dapat mendapat dukungan penuh dari Orang tua dan mendapatkan kenyamanan untuk menvceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

Saran penulis, tanamkan sebanyak mungkin filosofi hidup pada anak-anak Bunda semenjak dari kandungan bukan sejak dini ya.

Baju Menyusui Gamis Menyusui / Khimar Syar’i / Gamis Ibu Menyusui /Gamis Ibu Hamil / Pakaian Menyusui

Orang Tua Jangan Abaikan Anak Demi Gadget. Bisa Anda Baca Ini

Orang Tua Jangan Abaikan Anak Demi Gadget. Bisa Anda Baca Ini

Bunda Sholehah, pernah mengabaikan anak karena asyik sendiri sama gadget? Awas, mengabaikan anak sama dengan menghambat diri kita ke surga lho!


Perubahan zaman memiliki pengaruh kuat pada diri seseorang, baik dalam berpikir, menentukan langkah kehidupan ke depan, ataupun dalam berinteraksi dengan sesama.

Jika dulu adalah perilaku yang tidak sopan berbicara dengan orangtua tanpa memandang wajahnya, maka sekarang hal itu seperti lumrah saja terjadi. Dahulu, saat anggota keluarga berkumpul dalam suasana santai, tak mungkin rasanya masing-masing berdiam diri tanpa suara, tapi saat ini hal itu sudah menjadi fenomena. Perubahan zaman dengan hadirnya gadget di tangan, betul-betul mengubah perilaku siapapun.

Mendidik Anak Sesuai Zaman, Penuhi Rambunya

Yang paling memprihatinkan dari efek negatif gadget bagi manusia modern kini adalah masalah kedekatan orangtua dan anak. Banyak istilah yang mengartikan gadget sebagai sarana mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Terbukti, interaksi anak dan orangtua kini makin ‘kering’ karena perhatian masing-masing kerap tersita oleh gadget.

Islam tentunya sangat mendukung kemajuan zaman yang memberikan banyak kemaslahatan bagi manusia. Bahkan Islam menyuruh orangtua mendidik anak-anaknya sesuai zamannnya. Namun bukan berarti prinsip-prinsip Islam terkait masalah pengasuhan bisa berubah-ubah sesuai zaman. Prinsipnya tetap sama sampai kapanpun karena syariat Islam diturunkan oleh Allah selalu relevan dan cocok untuk setiap zaman. Yang berubah tentu hanya fasilitas dan sarananya saja.

Anak adalah amanah besar dari Allah, dan ketika kita menjadi orangtua, berarti Allah anggap sudah mampu menjaga amanah-Nya dengan baik. Ini adalah prinsip utama pengasuhan dalam Islam, sehingga harus ada unsur kehati-hatian bagi orangtua dalam merawat, mengasuh, dan mendidik amanah besar ini.

Lalu menjaga amanah ini dari hal apa? Hal besar yang Allah ungkap dalam tujuan pengasuhan adalah menjaga keluarga dari dahsyatnya azab api neraka. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” (QS At-Tahrîm [66]: 6).

Baca Juga : Mau Pencernaan Si Kecil Anda Sehat. Inilah Tips-nya

Maksud dari menjaga keluarga dari api neraka menurut Ibnu Jarier dan Ibnu Al-Mundzir adalah sesuai sabda Rasulullah saw, “Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takut bermaksiat kepada-Nya, serta suruhlah anak-anakmu untuk menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena hal itu akan memelihara mereka dan kamu dari api neraka.”

Dari prinsip utama ini saja, langkah-langkah implementasinya jelas bukan hal yang remeh. Perlu komitmen, kesabaran tinggi, dan perjuangan dalam menjalankannya. Karena tantangan pengasuhan kini lebih berat dari era sebelumnya. Banyak yang perlu diwaspadai dan diantisipasi oleh orangtua dalam men-tarbiyah anak-anaknya, sehingga anak tetap merasa nyaman dengan agamanya di tengah mengkhawatirkannya kehidupan kaum muda kini.

Karenanya, dalam mendidik anak sesuai zamannya tetap harus memenuhi rambunya. Di antaranya dengan konsisten mengawasi kegiatan ibadah anak di tengah kegiatan kekiniannya seperti interaksinya dengan internet dan pergaulan di luar, bukan malah orangtua mencontohkan kelekatan berlebih pada gadget.

Orangtua juga perlu menanamkan cara menghindari mudharat dan meraih manfaat yang banyak dari perangkat teknologi dan pergaulan di era modern, terutama untuk menambah pemahaman dan ketaatan anak akan nilai agama. Karena penyebab terjadinya kemerosotan akhlak dan kemaksiatan di kalangan muda adalah minimnya perhatian orangtua dalam menanamkan nilai agama dan akhlak mulia pada anak.

Jangan jadi Orangtua yang Lalai

Sudahlah kurang dalam menanamkan nilai-nila agama kepada anak, kehadiran gadget menambah alasan panjang minimnya perhatian orangtua akan masalah fundamental ini. Terutama orangtua yang sejak pagi hingga senja bekerja di luar, di rumah masih pula sibuk dengan gadget-nya. Waspadalah, karena hal ini bisa masuk dalam ketegori orangtua yang lalai.

Ustadzah Sinta Santi, Lc, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosat Islamiyah (STID) Al-Hikmah menjelaskan bahwa syariat Islam melarang seorang Muslim mengabaikan kewajibannya hanya karena urusan dunia yang sesaat, seperti mengedepankan takut urusan dunia dibanding takut dengan hisab yang ditetapkan Allah atas dirinya. Karena Rasulullah saw bersabda, “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu,” (Tuhfah Al-Maudud).

Masuk dalam ketegori lalai, jelas Sinta, adalah ketika orangtua mengabaikan, menyepelekan atau malah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai orangtua terhadap anak, utamanya dalam hal agama, akhlak, ibadah, dan perkembangan anak. Misalnya lebih memperhatikan gadget dari kebutuhan anaknya, suka menggantikan kehadiran orangtua dengan memberikangadget pada anak, atau menganggap cukup mewakilkan kehadiran orangtua hanya lewat komunikasi maya. Waspadalah ancaman Rasulullah saw, “Cukup berdosa seorang yang mengabaikan orang yang menjadi tanggungannya,” (HR Abu Dawud, Nasa’I, dan Hakim).

Pengasuhan di Dunia, Balasan di Akhirat

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah saat akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kelak ia akan berkata, ‘Wahai Rabbku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?’ Dijawab-Nya, ‘karena permohonan ampunan anakmu untukmu,’” (HR Ibnu Majah).

Jika doa anak bisa mengangkat orangtua ke surga, maka dalam pengertian terbalik yang biasa disebut mafhum mukhalafah,orangtua juga bisa mendapat balasan yang buruk di akhirat karena lalai dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Karenanya kita perlu berhati-hati, jangan sampai perlakuan kita kepada anak membuat kita tak bisa masuk surga.

Baju Menyusui Gamis Menyusui / Khimar Syar’i / Gamis Ibu Menyusui /Gamis Ibu Hamil / Pakaian Menyusui

Mau Pencernaan Si Kecil Anda Sehat. Inilah Tips-nya

Mau Pencernaan Si Kecil Anda Sehat. Inilah Tips-nya

Apabila saat ini Bunda Sholehah memiliki buah hati yang sedang memasuki usia enam bulan, maka inilah waktunya untuk bersiap mengenalkan si kecil dengan berbagai jenis makanan sebagai pendamping ASI. Salah satu jenis makanan pendamping ASI (MPASI) adalah makanan padat yang berfungsi untuk melatih otot-otot mulut, melatih perkembangan rahang dan berpengaruh pada kecepatan kemampuan berbicara si kecil. Jika anak jarang dilatih menguyah, bisa berpeluang lebih besar untuk mengalami kesulitan dalam berbicara.

Oleh karena itu, yuk dapat kenalkan mereka dengan penuh kesabaran lalu ajaklah mereka berlatih kunyah-mengunyah. Sebegitu pentingkah proses kunyah-mengunyah itu? tentu saja sebab pencernaan berawal dari mulut dapat. Saat mengunyah, enzim-enzim dihasilkan. Enzim ini membantu lambung mengolah makanan. Bayangkan jika proses menguyah terlewati. Pastinya ada beberapa enzim yang tidak terproduksi dan tidak dapat membantu proses di dalam lambung. Akibatnya pun beragam. Duh, kasihan kan si kecil.

Nah, agar pencernaan si kecil sehat dan tubuhnya pun ikut sehat, ada beberapa tips:

1. Awali perkenalan makanan sehat sejak dini

Mengenalkan makanan sejak dini, akan memicu dan mengembangkan selera makan anak. Untuk itu terapkanlah jadwal agar anak tidak terbiasa ngemil. Jadi bukan melarang ngemil tapi membuat aturan yang fleksibel. Tidak lain agar anak tidak kehilangan semangat untuk makan makanan wajibnya dan tidak terbiasa iseng ngemil.

2. Mulailah dengan porsi kecil tapi sering

Bayi dan batita memerlukan separuh jumlah kalori yang dibutuhkan oleh orang dewasa. Dan disebabkan lambungnya yang masih mungil, porsi balita pun tidak banyak. Mereka tidak dapat makan dalam jumlah yang besar secara sekaligus. Jadi untuk mengantisipasinya, Bunda Sholehah dapat memulai dengan memberikan porsi yang sedikit demi sedikit tapi mengandung nilai energi. Dengan demikian kadar gula darah dalam tubuh tetap stabil dan tetap tersedia energi yang cukup untuk beraktivitas.

3. Menyediakan makanan segar

Buah dan sayuran segar mengandung banyak vitamin dan mineral. Keduanya juga mengandung serat yang membantu sistem pencernaan dan memerlancar proses pembuangan. Tapi untuk balita, sebaiknya pilih sayuran yang tidak terlalu mengandung serat tinggi sebab pencernaan si kecil belum terlalu sempurna. Jangan pula memberikan sayuran mentah kepadanya sebab dapat jadi sayuran tersebut mengandung zat-zat beracun yang dapat menghambat proses pencernaan si kecil. Jika Bunda ingin mengenalkan wortel mentah kepada buah hati, kupaslah wortel tersebut, cuci dan siramlah dengan air panas sebelum diberikan.

4. Berusahalah menghindari junkfood

Cobalah untuk tidak memberikan makanan jenis ini. Makanan yang berkualitas rendah, tinggi lemak,terlalu manis, dan mengandung pengawet juga penyedap rasa, sangat tidak ada gunanya bagi tubuh orang dewasa ataupun anak balita. Makanan jenis ini akan mengacaukan kadar gula darah, bergizi rendah dan merampas asupan nutrisi penting tubuh.

5. Selalu tawarkan air

“Lupa minum” menjadi salah satu kendala anak. Mereka terlalu asyik bermain dan lupa dengan aktivitas ini. Bunda jangan lalai ya mengingatkan buah hati dapat harus untuk minum, minum dan minum. Sodorkanlah kepada mereka air putih yang cukup setiap harinya, di setiap saat tanpa bosan. jangan biarkan mereka mengalami dehidrasi yang seringkali tidak terlihat. Dehidrasi ditandai dengan kelelahan, wajah sayu, pucat, rewel, bibir kering, kurang konsentrasi, pusing dan mata lelah. Untuk melancarkan program “minum air putih”, Bunda Sholehah jangan terlalu banyak menyodorkan makanan atau minuman manis. Sebab air putih yang cukup adalah minuman terbaik untuk tubuh.

sumber foto: google

Baju Menyusui Gamis Menyusui / Khimar Syar’i / Gamis Ibu Menyusui /Gamis Ibu Hamil / Pakaian Menyusui

Bunda, Ini Pentingnya Belajar Dalam Mendidik Anak

Bunda, Ini Pentingnya Belajar Dalam Mendidik Anak

Bunda Sholehah, tidak ada yang asing lagi dengan sabda Rasulullah ‘belajar dari ayunan sampai liang lahat’. Hadits ini mendorong setiap muslim untuk terus belajar sampai kapan pun. Belajar ilmu apa pun, pada siapa pun yang memiliki ilmu. Tetapi, Bunda para Bunda kadang lupa, bahwa Bunda pun harus terus belajar dalam menjalankan fungsi utama seorang Bunda sebagai pendidik generasi hingga mereka dewasa.

Jangan Semangat Saat Ia Masih Bayi

Benar, saat buah hati Bunda masih bayi, para Bunda semangat mencari ilmu mengasuh dan merawat buah hati dengan optimal. Semua belajar bagaimana cara mengoptimalkan golden age, masa emas pertumbuhan anak pada tiga tahun pertama kehidupannya. Tetapi, seiring berlalunya masa balita, seringkali para Bunda lupa, untuk terus mengasah diri mengasuh buah hati. Para Bunda menganggap buah hatinya sudah mulai dapat mandiri, apalagi mereka makin jelas menunjukkan memilki keinginan sendiri. Jadilah para Bunda lebih banyak membiarkan buah hati berjalansendiri. Apalagi, para Bunda merasakan adanya kebutuhan beraktualisasi diri karena buah hatinya tidak merepotkan lagi.

Justru inilah pangkal persoalan.

Benar, buah hati tidak merepotkan lagi. Mereka sudah dapat makan sendiri, mandi sendiri, asyik bermain sendiri, ataupun memilih saluran TV nya bahkan menu di gadget. Barangkali juga mereka sudah tidak lagi bermanja pada Bunda ibunya. Tidak lagi merengek minta ikut bila Bunda ada acara. Karena mereka memiliki teman setia setiap saat,yang dapat mereka kendalikan semau mereka. Ya, ada gadget canggih yang dapat menghilangkan kejenuhan, menghilangkan kesendirian mereka. Mereka tak lagi membutuhkan Bunda di sisinya. Inilah justru titik di mana para Bunda dapat menghadapi masalah besar, bahkan dapat jadi terlambat bersikap karena buah hati Bunda sudah dalam cengkeraman bahaya besar.

Baca Juga : Jangan Paksa Anak Penuhi Keinginan Anda, Ini Dampak Buruknya!!

Peran Bunda bukan hanya sebatas masa balita. Tetapi peran Bunda terus melekat dengan segala tanggungjawabnya hingga menghantarakan buah hati Bunda menjadi hamba shalih dan shalihah. Dan keshalihan ini harus terus dipupuk hingga mengalir bersama dengan aliran darah mereka. Keshalihan yang menjadi sikap, kebiasaan bahkan satu keharusan yang diamalkan dengan penuh kesadaran. Dan peran Bunda sangat penting dalam menentukan. Apabila Bunda belajar hanya pada masa batita atau balita saja, bisa jadi Bunda aman sesaat ketika masa mereka tumbuh sebagai anak.

Repot yang lebih besar

Tetapi kerepotan yang jauh lebih besar, yang dapat jadi menguras seluruh energi, bahkan juga perasaan, menanti pada masa yang akan datang, yang Bunda tidak tahu ujungnya. Lihatlah realita yang menyesakkan dada. Pergaulan bebas dengan segala akibat buruknya merajalela. Narkoba tidak lagi dianggap bahaya, bahkan anak-anak usia sekolah dasar pun bisa berteman dengannya. Bullying hingga kekerasan yang menghilangkan nyawa akan semakin membudaya. Itu semua hanyalah sebagian persoalan yang mungkin Bunda hadapi. Dan semua dapat berpangkal dari abainya Bunda sebagai Bunda.

Wahai Bunda, maka teruslah dekap buah hati Bunda dengan perhatian dan kasih sayang sejati. Teruslah dampingi mereka sesuai dengan usianya dan juga sesuai zamannya. Jangan hanya hujani mereka dengan materi, tapi sesungguhnya kering kedekatan dan interaksi hati.

Baca Juga : Bunda, Jangan Katakan 5 Hal Ini Pada Anak

Ikat mereka kedalam cahaya Illahi, agar selalu tertanam dalam hati bahwa mereka adalah hamba Allah yang lemah, sehingga sennatiasa mencari kekuatan kepada Dzat Maha Kuat. Bangun kesadaran tentang hakekat kehidupan, bahwa saat maut menjemput, pengadilan Allah menanti mereka pada penghujungnya, untuk menetapkan hunian akhir sejati, yang kekal selamanya.

Alasan

Karena itu wahai Bunda, teruslah belajar menjadi Bunda, dalam semua tahapan kehidupan buah hati Bunda. Tidak hanya saat bayi, tapi juga masa anak-anak, remaja, dewasa, bahkan sampai memilih pendamping hidupnya, menyiapkan mereka menjadi isteri shalihah dan suami shaleh. Tentu saja setiap masa ada ilmunya. Dan semua ilmu itu sangat istimewa sesuai dengan tahapan hidupnya. Dan ilmu itu harus dicari dengan sepenuh hati, dan juga semangat yang tidak pernah mati. Karena peran inilah yang diwajibkan Allah Pencipta Bunda, dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhir nanti. Dan peran ini harus sampai mengantarkan buah hati Bunda menjadi hamba Allah yang shalih shalihah, yang ridha kepada Allah, dan Allah pun ridha kepadanya.Bunda Sholehah, tidak ada yang asing lagi dengan sabda Rasulullah ‘belajar dari ayunan sampai liang lahat’. Hadits ini mendorong setiap muslim untuk terus belajar sampai kapan pun. Belajar ilmu apa pun, bersama siapa pun yang memiliki ilmu. Tetapi, Bunda para Bunda kadang lupa, bahwa Bunda pun harus terus belajar dalam menjalankan fungsi utama seorang Bunda sebagai pendidik generasi hingga mereka dewasa.

Baju Menyusui Gamis Menyusui / Khimar Syar’i / Gamis Ibu Menyusui /Gamis Ibu Hamil / Pakaian Menyusui

Jangan Paksa Anak Penuhi Keinginan Anda, Ini Dampak Buruknya!!

Jangan Paksa Anak Penuhi Keinginan Anda, Ini Dampak Buruknya!!

Bunda Sholehah, apakah kita termasuk orangtua yang memperlakukan anak seperti boneka?

“Habis ini ngaji yaa… nanti malam les musik, besok Anda ikut lomba, akhir pekan juga.”

Ketika sedang bermain boneka, kita bebas melakukan apapun yang kita inginkan terhadap boneka tersebut. Bisa memilihkan baju, sepatu, gaya rambut, nama, profesi, sesuka hati kita. Namanya juga boneka… tidak memiliki kemampuan untuk memilih sendiri dan tidak memiliki perasaan.

Sayangnya, ketika sudah menjadi orangtua… banyak lho yang masih memperlakukan anaknya seperti boneka. Anak tak mempunyai pilihan, tak ada kebebasan, yang ada hanyalah keharusan memperturutkan obsesi orangtuanya. Seolah-olah anak tak memiliki perasaan.

Memang sering kali orangtua bermaksud baik, ingin anaknya menjadi pribadi hebat nan berprestasi, akan tetapi orangtua perlu 1 kunci utama agar tidak menjadikan anak pasif seperti boneka, yakni komunikasi.

Kita perlu menghormati pilihan anak, sehingga penting sekali untuk berkomunikasi dan meminta persetujuan anak sebelum memutuskan sesuatu untuk mereka.

“Sayang… Umi pengen Anda jadi hafizhoh, hafal quran… keuntungannya luar biasa di dunia dan akhirat, Anda mau gak?”

Biasakan memberi penjelasan dan persetujuan anak. Lebih baik lagi kalau anak diberikan beberapa pilihan sehingga mereka tidak merasa terpaksa menjawab “Ya”.

Jangan sekali-kali mengancam anak, “Kalau Anda tidak mau… berarti Anda tidak sayang sama Umi,” ini adalah pemaksaan secara halus, anak akan merasa tidak berdaya.

Tirulah cara Nabi Ibrahim alaihissalam mendidik putranya, Ismail, bahkan untuk melakukan perintah Allah yang jelas-jelas tidak boleh ditolak… Nabi Ibrahim tetap berkomunikasi dan meminta persetujuan putranya.

Mengapa penting tidak memperlakukan anak seperti boneka?

1. Anak tidak terbiasa mengambil keputusan

Segala sesuatu sudah didesain oleh orangtua, sehingga anak tidak terbiasa memilih dan membuat keputusan berdasarkan keinginan dan pertimbangannya sendiri. Hal ini akan terbawa hingga anak dewasa.

2. Anak memendam kemarahan dan kekecewaan pada orangtua

Orangtua merasa telah memilihkan yang terbaik untuk anak, tapi coba perhatikan deh… jangan-jangan anak kecewa dan marah dengan jalan hidup yang anda pilihkan untuknya tanpa persetujuannya.

Ujung-ujungnya… anak bisa ‘balas dendam’ ketika kelak dewasa, yakni dengan melarikan diri dari kekuasaan orangtuanya.

3. Anak kehilangan keindahan masa kanak-kanaknya

Banyak orangtua yang tidak sadar telah menghilangkan masa kanak-kanak yang indah dari hidup anaknya. Karena obsesi orangtua, anak disekolahkan di fullday school misalnya, penuh dengan les dan kursus ini-itu, sehingga waktunya tidak tersisa untuk sekadar bermain bersama temannya.

Kalau memang hal tersebut yang dikehendaki anak… tidak mengapa, masalahnya adalah kalau sebenarnya anak ingin bebas bermain namun dilarang orangtua dengan alasan ini itu, dan waktu mainnya harus digantikan dengan hal lainnya.

Bunda Sholehah, memang tidak mudah menjadi orangtua… tapi juga tidak sulit kalau kita menyeimbangkan keputusan kita antara akal dengan hati. Rem obsesi kita terhadap anak, biarkan mereka juga ikut memilih dan membuat keputusan. Semoga Allah menjadikan kita orangtua yang mampu bertanggungjawab.

Baju Menyusui Gamis Menyusui / Khimar Syar’i / Gamis Ibu Menyusui /Gamis Ibu Hamil / Pakaian Menyusui

Bunda Ini Penting, Ajarkanlah Anak Untuk Berbagi

Bunda Ini Penting, Ajarkanlah Anak Untuk Berbagi

Bunda Sholehah, cara mengajari anak mengenai keuangan tidak cukup dengan belajar mengelola pemasukan dan pengeluaran saja, namun juga dengan memberikan pemahaman tentang makna kebahagiaan dan uang. Seorang anak perlu memahami bagaimana memisahkan arti kebahagiaan dan memiliki banyak uang agar ia dapat mengatur keuangannya di masa depan.

Salah satu cara mengatur dasar keuangan kepada anak, dapat dengan mengajarkan memberi kebahagiaan kepada orang lain. Saat anak dapat memahami bahwa uang yang dimilikinya dapat membantu dan memberikan kebagiaan kepada orang lain, ia akan mulai bahagia tanpa menghamburkan uang. Berikut 5 langkah dalam mengajarkan buah hati dalam memberi:

1. Orang Tua Memulai Duluan

Dilansir dari buku The Straight Talk of Parenting karya Vicki Hoefle, sebelum mengajari anak memberi, ia perlu memiliki pengalaman memegang dan mengambil keputusan atas uangnya sendiri. Setelah itu, ia perlu mendapat pengalaman dari melihat orang tuanya dalam memberi. Ajaklah anak untuk mengantar buah tangan ke tetangga dekat rumah, cara tersebut sudah dapat menjadi pelajaran memberi yang berharga bagi mereka.

2. Bicarakan pada Anak

Selain memberi contoh, lakukanlah pembicaraan kepada anak. Jelaskan mengenai pentingnya saling berbagi dengan sesama. Misalnya, donor darah, menyumbangkan baju atau memberikan makanan kepada kepada tuna wisma.

3. Tanpa Paksaan

Bunda Sholehah, alangkah baiknya jika kita tidak memaksa si buah hati dalam memberi dan jangan tentukan barang apa yang harus diberi. Paksaan hanya membuat ia menjadi malas. Sebaiknya, diskusikan kepada anak cara apa yang mereka ingin lakukan atau barang apa yang ingin diberikan untuk membantu orang lain.

4. Ajaklah ke Bazar Amal

Mengajak anak ke bazar amal terdekat atau mengumpulkan pakaian bekas kepada panitia bazar merupakan salah satu cara dalam mengajari anak memberi. Lalu, bicarakanlah pada anak apa tujuan dari bazar amal tersebut, berapa besar bantuan yang dapat diberikan, dan mengapa kita perlu membantu orang lain.

Bunda Sholehah juga dapat memberi contoh sederhana kepada anak dengan mengemas pakaian layak pakai atau mainan yang sudah tidak digunakan lagi. Ajaklah anak merencanakan kepada siapa barang layak pakai itu diberikan.

5. Memberi Menghasilkan Kebahagiaan

Hal terakhir yang harus Bunda Sholehah lakukan ialah menjelaskan manfaat berbagi. Bahwa memberi juga akan membawa kebaikan bagi anak. Ajaklah anak berdiskusi mengenai bagaimana mainan atau pakaian bekas yang diberikan kepada orang lain sudah dapat memberikan kebahagiaan. Beritahu bila kebahagiaan sebenarnya bersumber dari rasa syukur, bukan dari mahal atau bagusnya barang tersebut.

Dengan menerapkan lima langkah di atas, Bunda Sholehah akan mengajarkan buah hati bahwa beramal tidak harus dilakukan saat peristiwa-peristiwa darurat saja, tapi juga dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun. Ketika Bunda Sholehah berbagi terhadap sesama di depan sang buah hati. Hal tersebut juga dapat memberikan pesan penting kepada buah hati bahwa semangat dan niat dalam memberi ialah suatu ibadah.

Sumber : Ummi Online

Baju Menyusui Gamis Menyusui / Khimar Syar’i / Gamis Ibu Menyusui /Gamis Ibu Hamil / Pakaian Menyusui