Blog
Spread the love

Bunda Sholehah, apakah kita termasuk orangtua yang memperlakukan anak seperti boneka?

“Habis ini ngaji yaa… nanti malam les musik, besok Anda ikut lomba, akhir pekan juga.”

Ketika sedang bermain boneka, kita bebas melakukan apapun yang kita inginkan terhadap boneka tersebut. Bisa memilihkan baju, sepatu, gaya rambut, nama, profesi, sesuka hati kita. Namanya juga boneka… tidak memiliki kemampuan untuk memilih sendiri dan tidak memiliki perasaan.

Sayangnya, ketika sudah menjadi orangtua… banyak lho yang masih memperlakukan anaknya seperti boneka. Anak tak mempunyai pilihan, tak ada kebebasan, yang ada hanyalah keharusan memperturutkan obsesi orangtuanya. Seolah-olah anak tak memiliki perasaan.

Memang sering kali orangtua bermaksud baik, ingin anaknya menjadi pribadi hebat nan berprestasi, akan tetapi orangtua perlu 1 kunci utama agar tidak menjadikan anak pasif seperti boneka, yakni komunikasi.

Kita perlu menghormati pilihan anak, sehingga penting sekali untuk berkomunikasi dan meminta persetujuan anak sebelum memutuskan sesuatu untuk mereka.

“Sayang… Umi pengen Anda jadi hafizhoh, hafal quran… keuntungannya luar biasa di dunia dan akhirat, Anda mau gak?”

Biasakan memberi penjelasan dan persetujuan anak. Lebih baik lagi kalau anak diberikan beberapa pilihan sehingga mereka tidak merasa terpaksa menjawab “Ya”.

Jangan sekali-kali mengancam anak, “Kalau Anda tidak mau… berarti Anda tidak sayang sama Umi,” ini adalah pemaksaan secara halus, anak akan merasa tidak berdaya.

Tirulah cara Nabi Ibrahim alaihissalam mendidik putranya, Ismail, bahkan untuk melakukan perintah Allah yang jelas-jelas tidak boleh ditolak… Nabi Ibrahim tetap berkomunikasi dan meminta persetujuan putranya.

Mengapa penting tidak memperlakukan anak seperti boneka?

1. Anak tidak terbiasa mengambil keputusan

Segala sesuatu sudah didesain oleh orangtua, sehingga anak tidak terbiasa memilih dan membuat keputusan berdasarkan keinginan dan pertimbangannya sendiri. Hal ini akan terbawa hingga anak dewasa.

2. Anak memendam kemarahan dan kekecewaan pada orangtua

Orangtua merasa telah memilihkan yang terbaik untuk anak, tapi coba perhatikan deh… jangan-jangan anak kecewa dan marah dengan jalan hidup yang anda pilihkan untuknya tanpa persetujuannya.

Ujung-ujungnya… anak bisa ‘balas dendam’ ketika kelak dewasa, yakni dengan melarikan diri dari kekuasaan orangtuanya.

3. Anak kehilangan keindahan masa kanak-kanaknya

Banyak orangtua yang tidak sadar telah menghilangkan masa kanak-kanak yang indah dari hidup anaknya. Karena obsesi orangtua, anak disekolahkan di fullday school misalnya, penuh dengan les dan kursus ini-itu, sehingga waktunya tidak tersisa untuk sekadar bermain bersama temannya.

Kalau memang hal tersebut yang dikehendaki anak… tidak mengapa, masalahnya adalah kalau sebenarnya anak ingin bebas bermain namun dilarang orangtua dengan alasan ini itu, dan waktu mainnya harus digantikan dengan hal lainnya.

Bunda Sholehah, memang tidak mudah menjadi orangtua… tapi juga tidak sulit kalau kita menyeimbangkan keputusan kita antara akal dengan hati. Rem obsesi kita terhadap anak, biarkan mereka juga ikut memilih dan membuat keputusan. Semoga Allah menjadikan kita orangtua yang mampu bertanggungjawab.

Baju Menyusui Gamis Menyusui / Khimar Syar’i / Gamis Ibu Menyusui /Gamis Ibu Hamil / Pakaian Menyusui

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.